Alasan Kenapa Kamu Suka Melow ketika Hujan

Musim hujan kini sudah tiba. Kamu pun bisa merasakan sejuknya udara dengan aroma tanah basah yang dibawa angin setelah hujan. Tapi pernahkah kamu merasa tiba-tiba galau dan moodswing saat musim hujan seperti ini? Bukan tanpa alasan, karena sebenarnya perasaan galau dan sendu saat hujan itu ada penjelasan ilmiahnya loh.

Menurut para psikolog, perubahan mood saat terjadinya pergantian musim ini disebut dengan istilah Seasonal Affective Disorder.

“Ini adalah gejala yang terjadi karena kurangnya cahaya di bulan-bulan musim dingin dan awan yang berlebihan,” ujar Debra K. Burton, PhD, seorang konselor profesional dan ahli terapi keluarga, seperti dilansir dari KTRE.

Sebenarnya Seasonal Affective Disorder (SAD) ditunjukkan untuk perubahan mood seseorang yang berada di negara empat musim. Namun, penelitian di dalam jurnal The Effect of Weather on Daily Mood: A Multilevel Approach, yang ditulis oleh Denissen, Penke, Bukalid dan van Aken membuktikan bahwa perubahan mood tidak hanya terjadi pada saat musim dingin, namun disaat musim hujan juga sangat berpotensi mengubah kondisi mood seseorang.

Lebih lanjut, Denissen menjelaskan saat musim hujan jumlah paparan sinar matahari yang diterima oleh tubuh akan semakin sedikit, hal inilah yang bisa menyebabkan seseorang mengalami gejala seperti depresi.

“Vitamin D ditemukan dapat mengubah tingkat serotonin dalam otak, yang dapat menjelaskan tentang perubahan suasana hati,” kata Denissen dalam penelitiannya, seperti dilansir dari laman Accu Weather.

Berdasarkan penelitian dalam jurnal “Understanding Seasonal Affective Disorder”, ada dua proses biologis yang terjadi saat hujan turun. Yang pertama hipothalamus, yakni respon dari hipothalamus yang akan memberikan sinyal ke glandula plineal untuk memproduksi hormon melatonin. Hormon inilah yang nantinya mendorong seseorang akan mudah mengantuk dan mudah melamun.

Yang kedua adalah serotonin. Pada prinsipnya sama dengan hipotlamus yakni adanya respon biologis yang dipengaruhi oleh cahaya. Hanya perbedaannya, bila hipothamalus diterima oleh indera mata, namun serotonin diterima oleh indera kulit terkait dengan penyerapan vitamin D.

Reaksi biologis itu pun kemudian diperkuat dengan aroma hujan yang khas, yang biasa disebut dengan  istilah Petrichor. Ternyata aroma yang khas ini ternyata juga bisa mempengaruhi mood kita loh karena adanya senyawa geosmin yang dihasilkan tanah saat hujan.

Meskipun tanda-tanda SAD mirip dengan gangguan suasana hati, yaitu mulai dari penurunan mood, afek psikis motorik yang menurun, malas, lelah dan rasa tidak berguna, tapi menurut dr Andri SpKJ, Psikiater dari RS Omni Alam Sutra Tangerang menjelaskan bahwa SAD sebenarnya bukan gangguan kejiwaan.

Well, itulah penjelasan ilmiah kenapa saat hujan kita seringkali merasa galau. Jadi, hujan itu bukan Cuma nyiptain genangan ya…tapi juga buka kenangan. Apalagi sama mantan. Duh!