Novel Athlas: Perlunya Komunikasi Antara Anak dan Orangtua

Judul               : Athlas

Penulis            : Kata Kokoh

Penerbit          : Pastel Books

Cetakan           : Pertama, Juli 2018

Tebal               : 444 halaman

ISBN               : 978-602-6716-39-2

Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Ayah akan berharap anaknya tumbuh dengan baik, sementara anak akan berharap ayahnya mendukung, menyayangi dan memahaminya.” (hal 266).

Tidak ada seorang anak yang ingin mendapat perlakukan berbeda dari orangtua.  Setiap anak pasti ingin memperoleh kasih sayang yang sama, agar tidak ada rasa iri, yang bahkan tumbuh menjadi dendam dan amarah. Untuk itulah, sebagai orangtua, kita harus memahami dengan benar bagaimana cara mendidik anak yang baik dan benar. Dengan begitu, orangtua akan terhindar dari sikap pilih kasih.

Perlu kita ketahui dampak sikap pilih kasih orangtua terhadap anak, akan membuat anak merasa tidak penting, rendah diri, merasa diabaikan,  kurang nyaman ketika berada dalam satu ruangan, serta merasa dianak tirikan.  Mengambil tema tentang dunia remaja dengan berbagai konflik yang sering dialami  dalam dunia nyata—dari masalah hubungan orangtua yang renggang, persahabat hingga masalah cinta—novel yang sudah lebih dulu populer di wattap ini, cukup menarik untuk dibaca.

Adalah Athlas, yang merupakan tokoh sentral dalam kisah ini. Dia merupakan anak tertua dari tiga bersaudara. Terlahir kembar, nyatanya Athlas sangat berbeda dari dua saudaranya; Athalan dan Athilla. Jika dua saudarnya selalu berprestasi di sekolah, maka tidak dengan Athlas.  Dia dikenal sebagai traouble maker dan malas belajar. Hal itulah yang membuat Athlas disekolahkan di tempat yang berbeda dari kedua saudaranya.

Tidak hanya itu, sikap ayahnya juga sangat berbeda kepada dirinya. Jika Athalan dan Athilla, selalu diberi kebebasan dalam melakukan berbagai hal yang mereka sukai, maka tidak dengan Athlas. Sang ayah kerap menekannya untuk selalu belajar dan selalu dilarang melakukan apa pun yang dia sukai. Karena alasan itulah, kadang Athlas merasa kurang nyaman jika harus berhadapan dengan ayahnya. Dan bahkan dia kerap merasa, bukan  anak kandung dari orangtuanya (hal 16).

“Wi-Fi, listrik, tablet, virtual glasses, semua fasilitas yang Papa berikan sudah kamu salah gunakan. Lagi pula, kalau kamu memang sudah belajar, kenapa nilai kamu masih buruk? Kenapa nilai kamu masih tidak memuaskan Papa? Kapan kamu bisa seperti Athalan dan Athilla? Papa akan kembalikan kebebasab itu kalau kamu bisa seperti mereka.” (hal 51).

Di sisi lain, Nakula, ayahnya sebenarnya sangat peduli dengan Athlas. Dia melakukan semua itu demi kebaikan putranya. Dia ingin yang terbaik bagi anaknya. Dia tidak ingin Athlas tumbuh menjadi orang yang gagal. Untuk itulah dia mendidik Athlas dengan sangat keras.

Namun bagaimana Athlas memahami keinginan Nakula, ketika pria itu tidak pernah berkomunikasi secara benar dengan Athlas? Karena setiap kali mereka bertemu, hanya amarah dan amarah yang dikeluarkan. Selain itu Nakula lebih sering membanding-bandingkan kelebihan dua saudaranya tanpa pernah mau memahami kelebihan yang dimiliki Athlas. Puncaknya ketika Athlas pulang terlambat karena berlatih band. Dengan amarah yang meledak-ledak, Nakula menghakimi hobi Athlas (hal 202).

Selain permasalah antara Athlas dan Nakula, di sini Athlas juga harus berhadapan dengan kenyataan bahwa kekasihnya, Laudia ternyata berselingkuh dengan sahabat dekatnya sendiri, Toufan. Kemudian sahabat terdekatnya, Vella yang mengetahui kejadian itu, tidak mau mengungkapkan kebenaran tersebut kepada Athlas. Di sini dia merasa dibodohi dan dikhianati.

Membaca kisah ini kita akan dihadapkan dengan bermacam-macam rasa. Karena selain mengusung unsur drama dalam cerita, ada juga sisi komedi, yang bisa kita rasakan dari sikap Athlas yang konyol dan apa adanya. Meski di satu sisi, ada juga sikap melankolis yang dia tunjukkan setiap kali menghadapi ayahnya.

Secara keseluruhan, novel ini cukup asyik untuk dibaca. Gaya bahasanya ringan dan mudah dipahami. Alur dan plot cerita juga digarap dengan baik. Hanya saja, ada beberapa bagian yang menurut saya agak membosankan, garing dan lebai. Namun lepas dari kekurangan yang ada, melalui kisah ini saya banyak belajar banyak hal.

Bahwa dalam hubungan keluarga anak dan orangtua harus berkomunikasi dengan baik, agar tidak ada kesalahpahaman. Karena perlu kita pahami, pemikiran anak dan orangtua tidak selalu sejalan. Perlu komunikasi untuk menyelesaikan masalah. Selain itu dalam kisah ini kita juga belajar tentang sebuah ketulusan dalam membangun persahabatan.