4 Tips Jitu Akbar Suganda Menembus Redaksi DAR! Mizan

4 Tips Jitu Akbar Suganda Menembus Redaksi DAR! Mizan

Hai Fantasteen Lover, hari ini saya bakal memberikan tips-tips ala saya, bagaimana caranya bisa menembus lini DAR!Mizan, khususnya Fantasteen. Sebagai penulis yang sudah berkarier sejak tahun 2013, saya sudah cukup banyak mengeluarkan buku terbitan Fantasteen yang saya yakin, sudah bersemayam di rak-rak kalian. Bener kan? Hehehe.. Daripada panjang lebar dan bikin kalian penasaran, ayuk di simak baik-baik ya.

1. Naskahnya Haruslah Beda atau Unik Dari Pesaing yang Lain.

Image source : http://isitvivid.com

“Naskah yang dibikin usahain beda dari yang lain. Maksudnya, boleh bertemakan sama, misal horor, tapi buatlah cerita yang memang memiliki ciri khas sendiri. Sensasi horor atau rasa takut pembaca itu tidak hadir karena arwah yang bergentayangan atau balas dendam saja.”

Karena bagian tim redaksi DAR!Mizan, khususnya Fantasteen memang mencari naskah yang tidak biasa, unik dan memiliki ciri khas tersendiri. Apalagi sekarang ini, naskah cerita horor sangatlah digemari oleh pembaca Fantasteen. So, maka dari itu bagi kamu yang ingin menerbitkan buku bertemakan horor, bikinlah yang memang tidak biasa. Seperti yang saya bilang di atas, rasa takut tidak hanya muncul karena ulah arwah yang gentayangan, tetapi bisa saja karena faktor hal lain. Hiiyy, seperti apa ya? Saya tunggu di karya kalian, ya, hehe. Tapi eitss, itu juga berlaku bagi tema selain horror loh ya.

2. Jangan terlalu complicated

Image source : https://www.veracode.com

Perlu kalian ketahui, pembaca Fantasteen lebih banyak remaja dan anak-anak. Nah, maka dari itu hendaknya kamu menulis naskah jangan terlalu berbelit-belit. Masalah atau konflik yang diangkat boleh kompleks, tapi jangan terlalu berbelit-belit penyelesaiannya. Kenapa demikian? Karena pembaca seperti anak-anak atau remaja akan kesusahan mencerna apa yang sebenarnya disampaikan oleh si pembuat cerita. Akibatnya, pembaca akan merasa malas untuk melanjutkan cerita dari Si Author. Ujung-ujungnya buku tersebut hanya menjadi bacaan tak selesai yang dipajang di rak buku.
Tidak mau kan, buku kamu berakhir seperti itu? Makanya jangan terlalu berbelit-belit ya, karena ribet ngelurusinnya hahaha…

3. Hindari Meniru Adegan Seperti di Dalam Movie, Apalagi Sinetron

Image source : https://blog.kanaka.store

Tips nomor tiga dari saya, sepertinya banyak terjadi di antara penulis-penulis remaja ataupun anak-anak zaman sekarang, ya? Bebeberapa bagian dari kisah mereka banyak yang mengandung unsur-unsur dari salah satu movie atau film yang pernah ditonton, atau bahkan menyamai adegan demi adegan pada movie tersebut. Tidak masalah terinspirasi dari suatu film, tetapi kita harus bisa mengukur ya teman-teman, apakah yang kita lakukan hanya sebatas terinspirasi atau sudah meniru?

Mengapa demikian? Karena selain nanti dianggap plagiat atau meniru karya orang lain, keorisinalan cerita juga kurang. Aduh, masa iya kalian ingin dikatakan sebagai peniru oleh pembaca di luar sana? Ih, Mimin sih tidak mau dibilang begitu. Bisa-bisa urusannya makin ribet loh guys. Lebih baik, bikin sendiri saja sesuai kemampuan kalian karena itu lebih bagus.

4. Berdoalah dan Bersungguh-sungguh

Image source : http://duapah.com

Tips terakhir yang saya bagikan, sepertinya adalah hal yang wajar yah. Memang ketika selesai melakukan suatu pekerjaan, langkah yang tepat adalah berdoa kepada Tuhan agar apapun yang kita lakukan memberikan yang terbaik. Sama halnya dengan menulis cerita, ketika kita sudah bersungguh-sungguh, maka yang perlu kita lakukan adalah menunggu dan berdoa selalu. Siapa tahu, redaksinya berbaik hati menerima naskah yang sudah kita kirimkan. Hehehehe…

Nah, gimana guys? Sudah tahukan tips ala Akbar Suganda ini, kalian juga bisa mempraktekkannya loh. Siapa tahu kalian juga bisa menyusul, bahkan melebihi saya dan penulis lainnya. Semangat selalu ya, dan jangan lupa berdoa…

No comments yet. Be the first one to leave a thought.
Leave a comment

Leave a Comment