5 Gedung Belanda di Bandung yang Masih Hits Sampai Sekarang

0
5 Gedung Belanda di Bandung yang Masih Hits Sampai Sekarang

Cari referensi tempat liburan di Bandung? 5 gedung ini menarik banget untuk dikunjungi, lho! Bisa juga jadi destinasi wisata ngabuburit di bulan Ramadhan ini. Dengan suasana khas Belanda, rasanya seperti benar-benar lagi di zaman Belanda, deh! Jadi bisa lebih meresapi cerita Helen dan Sukanta, dong, kalau gitu. Ayo kita intip!

Gedung Merdeka

Yup, gedung tempat konferensi Asia-Afrika tahun 1955 ini memang sudah jadi salah satu primadona di Kota Bandung. Dirancang pada tahun 1926 oleh Van Galen Last dan C.P. Wolff Schoemaker, gedung bersejarah ini adalah museum benda koleksi dan foto KAA. Enggak salah lagi, kamu bisa wisata sejarah ke sini, lho!

Selain itu, sekarang, kawasan di sekitar Jalan Asia-Afrika sudah dipercantik. Pssst, konon katanya, di sini banyak penampakan! Penampakan orang, maksudnya. Hehehe.

Di kawasan ini memang banyak hantu, tapi, hantunya manusia juga, kok! Mereka nge-cosplay jadi hantu-hantu nusantara, dan enggak sedikit juga wisatawan yang minta selfie bareng. Semakin menarik dan semakin banyak juga wisatawan yang datang jadinya. Kamu kapan?

Observatorium Bosscha

Kids zaman old pasti tahu bangunan ini dari film anak-anak tahun 2000-an, deh. Duh, ketahuan udah tuwir, Min. Huhuhu ….

Jauh sebelum itu, Observatorium Bosscha sudah dibangun, tepatnya selama tahun 1922 sampai tahun 1928. Nama tempat ini diambil dari pemilik kebun teh di sana, Karel Albert Rudolf Bosscha, anak dari ilmuwan fisika Johannes Bosscha. Selain itu, Karel Bosscha juga berperan besar dalam perkembangan sains dan teknologi di Hindia Belanda.

Nah, kalau kalian mau melihat keindahan angkasa, jelas di sini tempatnya. Bosscha punya teropong bintang paling besar yang bisa dipakai untuk melihat bintang-bintang lebih dekat. Tapi, berkunjungnya harus malam, ya, supaya benar-benar kelihatan!

Gedung Indonesia Menggugat

Seperti namanya, Gedung Indonesia Menggugat atau Gedung Landaard (pengadilan) juga kaya akan sejarah, lho! Gedung ini dibangun sekitar tahun 1907. Presiden pertama kita, Ir. Soekarno, diadili di gedung ini. Nama Gedung Indonesia Menggugat itu sendiri diambil dari pledoi Soekarno yang berjudul Indonesia Menggugat.

Sekarang, gedung ini masih aktif dikunjungi, biasanya untuk acara-acara komunitas, diskusi, atau acara sosial lainnya. Pameran buku sejarah hingga sastra juga cukup sering diadakan di gedung ini.

Kalau kalian berkunjung, dijamin, deh, bakal terasa banget aura Belanda-nya. Apalagi kalau menengok ruang pengadilannya. Bikin merinding!

Gedung Sate

Wah, ini dia ikon Kota Bandung paling hits dari masa ke masa! Tahu, enggak, kenapa dinamakan ‘Gedung Sate’? Karena ada ornamen bentuk sate di puncak gedungnya. Hehehe ….

Di masa Hindia Belanda, Gedung Sate disebut juga sebagai Gouvernements Bedrijven. Gedung ini dirancang oleh Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks, dengan Ir. J. Gerber sebagai arsiteknya.

Rancangan gedung ini diadaptasi dari tema Moor Spanyol, sementara bangunannya bertema Rennaissance Italia. Gedung ini dirancang dengan mengambil beberapa gaya, dengan perhitungan matang untuk tampak depannya. Enggak heran, kan, kalau Gedung Sate masih hits sampai sekarang?

Gedung-gedung di Jalan Braga

Kalau belum ke sini, belum poll jalan-jalannya! Enggak salah lagi, Jalan Braga penuh dengan gedung-gedung peninggalan Belanda yang kental banget. Bahkan beberapa gedung masih memasang plang berbahasa Belanda. Di sepanjang jalan ini, kalian bisa, deh, selfie sebanyak mungkin. Di setiap depan gedungnya juga boleh. Hehehe

Kalau jalan-jalan di sini, rasanya kayak jalan-jalan di Eropa banget. Enggak heran, sih, karena tata letak pertokoan di Jalan Braga memang mengikuti model tata letak Eropa. Pada masa tahun 1920 sampai 1940-an, kota Bandung cukup termasyhur sebagai kota mode, lho. Enggak kalah, deh, sama Paris. Makanya, Bandung diberi gelar Parijs van Java, atau Paris-nya Pulau Jawa.

 

Gimana? Makin enggak sabar buat jalan-jalan ke Bandung dan menikmati suasana ala Belanda? Sambil ngumpulin ongkos travel, kamu bisa banget, lho, buat baca Helen dan Sukanta dulu, supaya lebih dalem feel Belanda-nya. Daripada nyesel gara-gara kehabisan, mending segera pre-order!

[Oleh : VD]

LEAVE A REPLY