Penjajah Tidak Hanya Wariskan Kesengsaraan, Hal Ini Juga Warisan Penjajah

0
Penjajah Tidak Hanya Wariskan Kesengsaraan, Hal Ini Juga Warisan Penjajah

Portugis merupakan negara dari Benua Eropa yang pertama kali menjajah Indonesia. Kedatangan Portugis ke Indonesia tersebut tidak hanya bermakna negatif karena kedatangannya untuk menjajah. Namun, bangsa Portugis juga telah mewariskan kesenian Indonesia yang hingga sekarang dapat nikmati dan jumpai di masyarakat.

Salah satu kesenian yang masih sering kita temui dan nikmati yang merupakan warisan dari Portugis adalah kesenian musik keroncong. Keroncong ini menurut Viktor Ganap, professor musikologi ISI, merupakan seni musik yang berasal dari Portugis yang memiliki nama asli Fado. Fado sendiri awalnya dibawa ke Portugis oleh budak negro  dari Cape Verde, Afrika Barat pada abad ke-15.

Nama keroncong sendiri konon didapatkan dari irama ukulele yang seolah-olah berbunyi ‘crong’.  Namun ada juga yang mengatakan bahwa nama keroncong berasal dari bahasa Portugis ‘crucho’ yang artinya kecil, yang juga merupakan sebutan untuk ukulele.

Kesenian yang pernah hits di kalangan pemuda Indonesia pada 1960-an ini, masih sering kita temui. Salah satunya apabila kita mendatangi kota Yogyakarta. Sering sekali kita mendapatkan kelompok-kelompok kesenian musik keroncong tersebut di sepanjang jalan Malioboro. Sama dengan di Jogja, keroncong di Solo lebih dekat dengan kebudayaan jawa sehingga sering dimainkan bersama gamelan dan seruling jawa.

Kesenian selanjutnya yang diduga sebagai warisan dari bangsa Portugis adalah Tanjidor. Kata Tanjidor berasal dari bahasa Portugis ‘Tangedir’ yang memiliki makna musik bedawai. Tanjidor sendiri masuk ke Indonesia sekitar abad ke 16 yang dibawa pelaut Portugis yang datang ke Indonesia. Di Portugis sendiri kesenian Tanjidor digunakan untuk mengikuti pawai-pawai keagamaan seperti pesta Santo Gregorius.

Menurut seorang ahli sejarah, Dr. F. De Haan iringan musik Tanjidor merupakan iringan musik yang dimainkan oleh kaum budak pada masa kolonial. Budak-budak ini dahulunya merupakan pekerja dari bangsa Portugis yang datang ke Indonesia. Setelah Belanda datang, mereka pun menjadi tawanan Belanda. Karena keahlihan mereka bermusik dan pandai memainkan kesenian keroncong, tahanan kemudian dibebaskan. Hingga akhirnya kelompok-kelompok pemain musik keroncong mulai terbentuk dan dipakai untuk hiburan dan pawai kemiliteran Belanda.

Seiring berkembangnya zaman, musik tanjidor mulai terkikis oleh waktu. Apalagi adanya beberapa kali konflik di Indonesia khususnya di Batavia. Pada tahun 1950-an Indonesia mengalami ketidakstabilitasan politik yang membuat kelompok pemain tanjidor melakukan pertunjukkan dengan mengamen. Apalagi di tahun 1954, tanpa alasan yang jelas pertunjukkan tanjidor dilarang digelar oleh Pemerintah Daerah. Hingga saat ini, banyak dilakukan perubahan terhadap musik Tanjidor yang bertujuan untuk memperluas pasar peminat karena kebanyakan masyarakat lebih menyukai dangdut.

Nah, gengs, ternyata Tanjidor merupakan kesenian yang dibawa dari luar negeri. Selama ini pasti banyak yang mengira bahwa kesenian Tanjidor itu asli berasal dari Indonesia. Ya kaaaan?

 

[ OLEH : BILQIS ]

LEAVE A REPLY