5 Kendala Penulis Pemula, Beserta Solusi Jitunya!

5 Kendala Penulis Pemula, Beserta Solusi Jitunya!

Halo Sahabat Kreatif, 2017 baru saja berlalu meninggalkan kita. Mimin merayakan tahun baru dengan menyaksikan petasan sambil bersorak riang. Kalian bagaimana? Apakah kalian juga merayakan tahun baru? Atau hanya tidur pulas di rumah? Hahaha …

Bicara tentang tahun baru nih, pastinya kalian sudah memiliki banyak wishlist dan resolusi selama tahun 2018 kan? Mimin yakin pasti ada yang ingin punya barang baru, program baru, pacar baru upss .., dan bahkan ada yang ingin menerbitkan karyanya yang tidak sempat di tahun 2017. Nah, mengenai tulis-menulis nih, mimin masih saja menemui banyak sekali keluhan yang dirasakan oleh teman-teman kita calon penulis muda. Aduh, ditahun yang baru ini semua keluhan yang lampau harusnya sudah ditanggulangi. Tapi tenang saja, mimin sudah merangkum apa saja keluhan yang masih dirasakan calon penulis muda ketika menulis cerita, dan bagaimana cara menanggulanginya ala mimin. Yuk disimak!

  1. Malas memikirkan ide yang orisinal

Image Source: writeraccess.com

Masalah pertama yang sering mimin temui adalah mengenai ide. Sering kali mimin menemui banyak calon penulis yang berkeluh kesah tentang ide yang ingin mereka tuangkan dalam sebuah cerita. Bahkan ada sebuah percakapan yang pernah mimin alami seperti ini

“Hei, aku lagi stuck nih. Bagi idemu dong. Kan kamu pinter.”

“Kak, cariin aku ide dong untuk naskahku? Aku berencana mau ngirim cerita ke penerbit nih.”

Itu adalah salah. Why? Karena sama saja kalian mencontek buah pikir dari orang lain. Oke, mimin akui kalau meminta saran kepada orang lain itu penting, tapi bedakan ya guys mana yang sekedar saran, mana yang ide. Nah, sebenarnya apa sih penyebab banyaknya calon penulis susah sekali mendapatkan suatu ide? Jawabannya karena mereka malas berpikir kritis. Coba deh diperhatikan, seperti di sekolah ketika guru mereka bertanya tentang sesuatu, kebanyakan banyak yang menjawab “Tidak tahu, Bu.” Atau ketika berdiskusi satu sama lain, tak jarang kalian mendengar kalimat “Terserah, aku sih ngikut aja.”. Itu adalah contoh-contoh dari sifat malas berpikir loh. Mereka kebanyakan lebih senang memakai dan mengubah apa yang sudah mereka dapatkan dari sumber yang lain, karena itu simple dan mudah banget. Tapi, sahabat kreatif, orisinalitas itu sangat penting dalam sebuah karya atau cerita. Kalian tahu hak cipta kan? Nah semua karya yang dipublikasikan itu sudah memiliki hak ciptanya. Jadi, akan sangat beresiko jika kalian memakai ide orang lain yang sudah punya hak ciptanya.

Menemukan ide yang tepat dan sesuai dengan yang kita inginkan itu memanglah susah, tetapi ada cara yang bisa dilakukan untuk menanggulangi hal tersebut. Pertama, ubahlah mindset kalian dan tanamkan dalam pikiran kalau “mengambil atau menyomot ide orang lain itu tidak baik” dari sana, pikiran kalian akan memunculkan sinyal warning kalau mencontek ide yang bukan dari hasil pikiran sendiri itu BERBAHAYA! Memang, untuk mengubahnya tidak bisa secara instan, tetapi kalau kalian konsisten menjalaninya mimin yakin kalian akan terbiasa.

Kedua, menurut mimin yang perlu kalian lakukan adalah say no to laziness!!. Malas memang ada di diri setiap orang, siapapun orangnya, bahkan mimin pun juga mengalaminya. Pada awalnya kita akan merasa i feel free … dari apapun yang membuat tubuh dan pikiran kalian letih, tapi itu hanyalah kenikmatan sementara. Setelah itu, mimin menyesal karena semuanya jadi terbengkalai dan mimin harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menyelesaikannya. Sama saja dengan menulis cerita, jika kalian bermalaa-malasan dalam berpikir, ya ujung-ujungnya kalian akan merasakan kewalahan dalam menulis cerita dan makin capek. Maka itu, aturlah sifat malas kalian agar tidak menyebabkan pekerjaan kalian terbengkalai.

  1. Jarang berkonsultasi pada orang lain

Image source: www.stthomas.edu

Kebanyakan dari calon penulis muda sangatlah tertutup pada naskah cerita yang mereka tulis. Dari sekian calon penulis muda yang mimin tanya, atau bahkan mereka yang sudah menerbitkan karya pun juga mengalami masalah ini. Mereka lebih nyaman untuk tidak memperlihatkan naskah yang mereka tulis kepada orang lain, atau dengan kata lain mereka tidak ingin mendengar pendapat atau kritikan dari orang lain. Alasannya untuk menghindari fase down setelah mendapatkan kritikan yang dapat menurunkan motivasi dan minat menulis.

Well, menurut mimin itu tergantung bagaimana calon penulis itu menempatkan dirinya. Maksudnya, kita harus pandai-pandai dalam memilih orang yang sekiranya tepat untuk dimintai pendapat atau kritikan yang membangun. Lalu, kenapa harus diperlukan orang untuk memberikan pendapat karya kita? Kan nantinya sehabis terbit karyanya, orang lain, toh, juga bisa memberikan kritiknya? Hal itu memang benar, tetapi yang perlu diingat tidak semua orang memberikan kritikan yang baik loh guys, ada banyak pembaca diluar sana yang mengkritik terlalu pedas dan seperti yang mimin bilang di atas, mental kalian akan down sehingga akan berdampak pada turunnya minat kalian untuk menulis kembali.

Alasan perlunya konsultasi atau berdiskusi tentang naskah kepada orang yang tepat itu, fungsinya agar kalian tidak down saat dikritik ketika karya kalian sudah berupa buku cetak. Selain itu, dengan berkonsultasi atau meminta pendapat kepada orang yang menurut kalian tepat, konten atau isi cerita yang kalian buat dapat dievaluasi menjadi lebih baik lagi. Semua orang ingin karyanya dipuji banyak orang kan? Nah, maka itu cobalah untuk terbuka kepada orang lain, karena terkadang pendapat orang lainlah yang membuat cerita kita dapat dibangun lebih baik dan disukai oleh banyak pembaca.

  1. Writer’s Block

Image source: strategisconsulting.ca

Hampir sama dengan persoalan nomor satu, tetapi writer’s block merupakan masalah yang paling sering ditemui, bahkan menyerang semua penulis. Bukan hanya tentang susahnya mendapatkan ide, tetapi juga mengalami kebuntuan pada naskah cerita  yang telah dibuat. Kasarnya, kita seolah miskin ide dan gagasan. Ugh, menyakitkan bukan? Ibaratnya kita dihadapkan  jalanan super macet di sebuah kota, sehingga kita sangat malas untuk berpergian. Ujung-ujungnya proses penulisan kita terbengkalai …

Well, sebenarnya ada banyak faktor yang menyebabkan writer’s block seseorang bisa terjadi. Setiap penulis memiliki penyebab writer’s block yang berbeda-beda. Ada yang terjadi karena masalah yang berat, ada yang terjadi karena banyaknya kegiatan lain yang super padat dan melelahkan, dan bahkan ada yang terjadi karena lebih fokus pada hal yang tidak tidak terlalu prioritas, harusnya ke Word untuk menulis, tapi beralih ke stalker Instagram mantan. Hahaha …

Menurut mimin, selain dari masalah diatas, penyebab lainnya yang memunculkan writer’s block adalah karena timing yang kurang tepat. Contohnya, kalian sedang banyak skedul yang mendesak, tetapi kalian tetap memaksa menulis. Hal itu akan mengakibatkan kegiatan atau aktivitas kalian semakin kacau karena fokus kalian terbagi antara skedul yang harus segera diselesaikan dengan naskah ceritanya. Selain itu, hal yang dapat memunculkan writer’s block adalah sikap perfeksionis. Maksudnya, kalian menulis cerita harus melebihi penulis X, atau paling tidak karya kalian setara kualitasnya dengan penulis X tersebut. Well, itu mustahil jika dilakukan secara instan. Malah yang akan terjadi  karya kalian akan semakin buntu dan terbengkalai. Ujung-ujungnya stalker Instagram … mantaaan!!!

Nah, mimin punya cara agar writer’s block dapat teratasi. Pertama, menulislah saat kalian sedang dalam keadaan bahagia atau good mood. Perasaan yang bahagia dapat membuat tulisan kalian lebih bagus karena pikiran kalian lebih jernih untuk berpikir. Kedua, ketika sedang mandeg atau mengalami kebuntuan, hentikanlah menulis dan lakukan kegiatan yang dapat meningkatkan gairah menulis kalian guys. Mimin kalau lagi stres dengan naskah cerita, akan bernyanyi atau berjalan-jalan menikmati indahnya pemandangan. Jika kalian memiliki banyak skedul dan aktivitas, cobalah untuk membagi waktu agar lebih terstruktur dalam melakukan sebuah kegiatan. Bener deh, 24 jam itu sangatlah cukup. Cara lainnya adalah batasi sikap perfeksionis. Memaksa diri untuk mendapatkan ide yang lebih baik boleh, asal tahu batas kemampuan kalian. Apalagi kalau bagi pemula, hal itu akan sangat buruk bagi kualitas naskahnya. Setelah itu, cara yang dapat menghilangkan writer’s block lainnya dengan membaca buku. Tentu saja karena menurut mimin, membaca buku merupakan metode yang tepat untuk memunculkan ide-ide kreatif dalam otak yang selama ini tertidur. Asik.

  1. Ide yang terlalu banyak

 

Image source: venturebeat.com

Loh, kok ide yang banyak bisa jadi masalah sih? Bukannya ide yang banyak justru lebih bagus ya? Benar, ide yang banyak memang sangatlah baik. Ada yang menyebutkan ide diibaratkan dengan uang, semakin banyak ide kita ibaratnya semakin banyak uang kita. Tetapi, jika berlebihan apakah itu termasuk hal yang baik? Well, i don’t think so …

Ide yang banyak mencermikan bahwa kita termasuk orang yang berwawasan dan pengetahuan luas, bahkan dicap sebagai orang yang cerdas. Namun, itu hanya berlaku bagi mereka yang dapat mengontrol, memfilter, dan memilah ide tersebut. Orang yang banyak ide, tetapi tidak bisa mengontrol idenya, tetap saja akan kewalahan dan ide-ide yang terkumpul tersebut akan wara-wiri, menghilang satu-persatu. Gak banget kan?

Sama saja dengan menulis, ketika seorang penulis memiliki banyak ide, tetapi ide tersebut menganggu cerita yang telah didesainnya sedemikian rupa, itu tentu aja berdampak pada kualitas cerita yang akan dibuatnya. Cerita yang dibuat akan tidak sejalan dengan konsep awal yang telah dipikirkan matang-matang, atau dengan kata lain tidak konsisten. Banyak calon dan bahkan penulis muda yang mendapati hal ini. Mereka mengeluh dengan cerita yang tidak sesuai ekspetasi dan mengambang jauh dari awalnya. Ibarat parasit, hal itu akan menggerogoti motivasi mereka dalam menyelesaikan cerita, yang tidak jarang sudah memasuki tahap-tahap akhir. Kasihan bukan?

Oleh karena itu perlunya kontrol yang penuh terhadap ide yang bermunculan. Misalnya ketika kalian mendapati ide yang lain, tulislah ide tersebut ke catatan atau notes agar tidak hilang, sehingga ide tersebut tidak menganggu fokus kalian. Setelah itu, fokuslah pada satu kisah yang telah dirancang sejak awal, agar tidak menyebabkan gap antara ekspektasi dan realita dari cerita yang telah kalian bangun itu.

  1. Takut Mengeksekusi

Image source: fountainofsalvation.org

Yup, keluhan lain yang dialami oleh penulis-penulis muda yaitu takut memutuskan dan mengeksekusi sebuah cerita. Mereka seringnya berpikir bahwa perlakuan yang mereka berikan pada isi atau karakter dalam cerita kurang pas. Biasanya terjadi karena adanya perbbandingan dengan karya yang pernah dibaca sebelumnya. Seolah apa yang mereka buat, tidak semenarik atau sekeren karya yang lebih terkenal. Atau hal itu bisa saja terjadi hanya karena pimikiran pesimis dari penulis itu sendiri. By the way, let’s throwaway that overthinking. Buang jauh-jauh pemikiran negatif yang menciptakan keraguan dalam mengeksekusi. Kenapa? Karena menurut mimin, jika kalian tetap takut atau ragu-ragu dalam mengeksekusi cerita, kalian tidak akan dapat berproses menjadi lebih baik. Jika tidak sekarang, kapan lagi, bukan? Bahkan penulis terkenal seperti J.K. Rowling pun harus mengalami penolakan yang amat sakit sebelum naskahnya sukses seperti yang kita lihat sekarang. So, kalau beliau bisa, kenapa kita tidak? Memang ada kalanya, kita merasa takut dan minder, tapi hal tersebut tidak boleh dibiarkan larut selamanya. Its easy? No, its hard!!! Tapi, apabila kita yakin pada diri sendiri dan mau berproses, pemikiran negatif tersebut dapat diatasi. Intinya ada pada keyakinan diri setiap penulis tersebut.

Nah, bagaimana Sahabat Kreatif, sudah jelas kan? Apakah kalian termasuk salah satunya? Jika iya, ayo segera diatasi keluhannya dengan cara dan metode ala mimin agar di tahun yang baru ini resolusinya bisa tercapai. Kalau kita yakin, semuanya pasti akan tercapai, kok. Ingat saja itu. Cihuy …

No comments yet. Be the first one to leave a thought.
Leave a comment

Leave a Comment